“Di negaramu tidak ada musim dingin ya?” begitulah pertanyaan salah satu teman saya yang berasal dari negara Asia timur. Tubuhnya terlihat sedikit menggigil saat kami keluar dari gedung. Saat itu ada rintik salju dan langit pun terlihat gelap. Matahari nampaknya sedang terlelap dan tidak mendengar bunyi alarm pagi.

“Tidak ada, hampir setiap hari suhu di negara kami sama, sehingga kami tidak perlu mengecek weather forecast (ramalan cuaca) setiap hari, kecuali hanya sekedar mengetahui akan ada hujan atau tidak, itu pun biasanya hanya pada musim penghujan saja.” Jawab saya.

“Pasti nyaman sekali.”

Saya hanya tersenyum lalu sedikit menambahkan. “Dan kami tidak perlu menggunakan jaket tebal setiap kali keluar rumah, pakaian yang sering kami gunakan setiap hari ya pakaian untuk musim panas, kain yang dingin dan tidak membuat sang pemakai merasa sumuk.”

“Aku jadi iri.” Timpalnya kemudian. Saya tertawa dengan komentar wanita cantik bermata sipit yang berusia di atas 30-an ini. Rambutnya yang pendek itu ditutupi oleh topi rajut dari wool, tubuh mungilnya dibalut jaket bulu angsa yang tidak terlalu tebal namun sangat hangat, dan sarung tangan berwarna coklat dari wool yang indah dipandang.

Saya membandingkan dengan diri saya yang cukup memakai syal lebar yang mirip pashmina untuk saya gunakan sebagai hijab musim dingin, sangat membantu melawan udara dingin yang sedikit memaksa untuk menyapa kulit.

Kedua tangan saya pun cukup saya masukkan ke saku jaket agar terlindung dari hawa dingin, karena bukan orang yang telaten memakai sarung tangan.

Lalu kami berjalan beriringan, menuju main library yang terletak tidak jauh dari gedung kuliah, Di sekeliling kami, orang-orang berjalan dengan langkah tegap dan cepat, seolah tidak ingin berada di luar ruangan terlalu lama dan ingin segera menghangatkan tubuh dalam ruangan.

Nafas saya pun menjadi asap putih, persis seperti asap rokok, karena begitu dinginnya.

Saya jadi kangen negara Indonesia, saya kangen matahari yang sering menyapa dan durasi waktu siang dan malam yang seimbang dan stabil.

Saya kangen kehangatan dan kenyamanan alam yang tidak mengharuskan kita bertarung melawan kerasnya suhu ekstrim yang sering terjadi di negara belahan dunia lain.

Saya kangen dengan hijaunya alam sekitar dan tidak harus sedih melihat daun-daun berguguran karena suhu dingin.

 

Saya bersyukur bahwa saya terlahir di sebuah negara yang Tuhan pasti sedang bahagia saat merancangnya…

Begitu hangat, begitu indah, dan orang-orang yang ramah

Alhamdulillah, Tuhan Yang Maha ESA dan Maha KUASA, telah memberikan kesempatan kepada saya yang wong ndeso ini melalui perantara beasiswa LPDP untuk bisa kuliah S3 ke luar negeri, sehingga bisa membandingkan dan merasakan perbedaan alam yang terjadi.

Dan setiap langkah yang saya pijak, semoga malaikat pun mengiringi dengan tersenyum riang.

 

Semangat pagi, Semesta…

 

January, 2018. Iowa City, USA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *