Kafe “Ngamuk” (1)


A novel by Uning M

Suara klakson bus yang nyaring nyaris membuat Sarah terjatuh dari tempat tidur karena saking terkejutnya. Memiliki rumah di dekat jalan raya antar kota Malang dan Surabaya, membuatnya serasa hidup di tengah arena konser dimana suara derum kendaraan yang ngebut hingga jeritan klakson bus saling bersahutan. Wanita yang kini berusia 35 tahun itu bangun dengan kondisi yang tidak bersemangat. Matanya bengkak hasil dari menangis semalaman.

Suara dering HP membuyarkan pikirannya.

“Sarah, kau sedang apa sekarang? Aku mengkhawatirkanmu?” Suara Ria, sahabat karibnya terdengar cemas dari seberang telepon.

“Hmm…” Sarah menjawab sinis. “Untuk saat ini aku masih bisa bertahan hidup, tapi tidak tahu sejam atau dua jam kemudian.”

“Sssst…!! Jangan ngaco! Jangan aneh-aneh…”

“Kuburan anakku masih merah, belum kering…. Sekarang aku dihadapkan dengan perselingkuhan lelaki bajingan itu. Aku nggak kuat, Ria… nggak kuat!”

“Romy memang brengsek, tapi hidupmu jauh lebih berharga untuk kau hancurkan gara-gara suamimu itu.”

“Apa yang harus aku lakukan…..Aku nggak tahu.” air mata turun dengan deras. Hati rasanya sakit sekali.

“Kau pernah dengar Kafe “Ngamuk”?”

“Belum, kenapa?” Tanya Sarah lemas.

“Aku akan menjemputmu dan membawamu kesana. Kafe itu membebaskan pelanggan untuk mengamuk, membanting barang-barang, memecahkan kaca bahkan segala apa saja. Kau bahkan bisa berteriak semaumu. Luapkan segala emosimu di sana, luapkan segala kemarahanmu, asal kau tidak berfikiran untuk bunuh diri.”

“Kafe macam apa itu? Aku tidak tertarik.” ujar Sarah acuh.

“Sudahlah, kau tinggal ikut saja, repot amat!” Paksa Ria, sahabat Sarah semenjak kuliah itu.

Sarah menghela nafas, Ria selalu seperti itu. Selalu saja berbuat baik padanya, meskipun ia belum sempat membalas kebaikannya. “Kenapa?”

“Kenapa apa?” Ria balik tanya.

“Kenapa kau mau repot-repot baik padaku, padahal aku jarang memperdulikanmu.”

That’s what a friend for, teman ada di kala susah.”

“Tapi kenapa kau perlu membuktikan itu padaku? Aku brengsek. lebih masuk akal bagiku jika kau tidak peduli padaku.”

“Siapa bilang kau brengsek? Aku tak ingin beretorika denganmu. Bersiap-siaplah. Satu jam lagi aku sudah sampai di depan rumahmu.”

Suara HP ditutup, meninggalkan Sarah yang masih terhanyut dengan kesedihan yang amat dalam.

Akhirnya, setelah beberapa lama, motor matic yang dikendarai oleh Ria berhenti tepat di depan rumah Sarah. Rumah itu tampak lengang dengan rerumputan yang makin meninggi seolah tidak pernah dirawat. Ada beberapa bunga yang mengering dan beberapa daun kering berserakan di pelataran. Seperti tidak pernah disapu.

Ria mengetuk rumah itu perlahan, tapi tidak ada sahutan.

“Assalamualaikum…”
Masih belum ada jawaban sama sekali, tiba-tiba pikirannya menjadi aneh-aneh, jangan-jangan ia terlambat. Jangan-jangan Sarah sudah melakukan hal yang tidak diinginkan itu.

Ia panik dan segera menggedor-gedor pintu, namun tak dibuka sama sekali.

Rupanya tidak dikunci, ia segera berhambur masuk ke dalam rumah. Bayangan di pikirannya sudah nampak jelas. Jangan-jangan ia sudah terlambat.

Ia mendongak ke atas mencari-cari sosok yang barangkali sudah menggantung di atas, atau bahkan tergeletak di lantai dengan darah berceceran.

Tak jua ketemu, ia makin panik, pintu kamar Sarah segera ia dobrak.

Brakk…!!

Di depannya ada sosok putih dengan rambut hitam menjurai memandangnya. Mata itu… penuh kesedihan, keputusasaan dan kuyu. Wajahnya putih pucat. Sosok penampakan itu sedang menatap Ria dengan tatapan tajam. Lalu, bayangan putih itu melayang mendekatinya perlahan-lahan dengan kaki yang tak terlihat.

Melihat hal itu, tubuhnya langsung gemetar dan panas dingin. Mulutnya langsung komat-kamit membaca ayat kursi. Ia gemetar ketakutan. Hantu itu mendekatinya perlahan dan sepertinya tidak bereaksi saat ia membacakan ayat kursi.

“Hei…Kau ini meracau ya? Aku baru saja mandi dan masih memakai baju tidur yang kebesaran ini.” Ujar Sarah sambil menyentil pundak Ria.

Ria terkejut, “Jadi kau belum meninggal? Kau bukan hantu?”
“Asem…” Sahut Sarah lemas.
Ria menghela nafas lega, namun dadanya masih berdetak kencang akibat rasa takut yang luar biasa itu.

Bersambung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *