Kafe “Ngamuk” (2)


Mesin sepeda motor itu dinyalakan. Ria berada tepat di belakang kemudi dan Sarah duduk di belakangnya. Kendaraan beroda dua itu melaju kencang di jalan raya Singosari, seolah tak mau kalah dengan gambar si Panda yang asyik nongkrong di belakang bis pembalap “Restu” yang asyik makan daun bambu. Panda raksasa beroda empat itu baru saja menyalip motornya dan seolah mengejek dirinya yang dengan mudah disalip dan tertinggal di belakang. Tak terima dengan hinaan itu, Ria semakin melaju kencang.

“Aku rasa kau tak perlu mengantarkanku ke kafe yang kau maksud. Cukup antarkan saja aku ke akhirat dengan kecepatan bermotormu.” Sindir Sarah.

“Lembut tapi menyayat..” jawab Ria datar

“Apanya?” Tanya Sarah

“Tidak ada…”
“Aku bisa dengar ucapanmu tadi.” balas Sarah lagi
“Lalu kenapa tanya?” jawab Ria

“Lalu kenapa jawab?”

Ria menghela nafas dalam-dalam, tidak akan berhenti jika berdebat dengan Sarah. Butuh seribu satu jurus bersilat lidah untuk mengalahkan retorikanya.

Sarah adalah sosok yang unik, semua orang tahu itu. Dia senang menjadi pusat perhatian dan selalu merasa bahwa pusat tata surya adalah dirinya, bukan matahari. Sehingga apapun selalu berdasarkan sudut pandangnya, bukan sudut pandang orang lain. 

Tapi dari sifatnya yang nyaris menyerupai alpha male, dia adalah sosok yang rapuh, penakut, dan sangat sensitif. Sehingga untuk melindungi dirinya yang rapuh itu, ia membungkus dirinya dengan pelindung kokoh, sehingga dari luar, orang bisa menganggapnya dingin dan angkuh. Padahal kenyataannya, ia jauh dari hal itu. Sosok ini begitu lemah, kekanak-kanakandan cengeng.

Keputusan Ria untuk menaiki sepeda motor memang tepat, setelah tiga jam berlalu mereka hampir tiba di lokasi. Rupanya Kafe “Ngamuk” yang dimaksud terletak di sebuah bukit berhutan di dekat wisata Banyu Anjlok, kecamatan Tirtoyudo, Malang Selatan. Bukit itu adalah area hutan dengan jalanan yang curam, sempit nan licin

“Apa kau yakin ini jalannya?”
“Betul, aku mendapatkan informasi dari iklan seperti itu.”
“Tapi ini hutan dan jurang, mana mungkin ada Kafe di area terpencil seperti ini? Atau jangan-jangan kafe itu sebenarnya tidak ada?”

“Maksudmu?”
“Mungkin saja kafe itu milik Alien atau makhluk halus dan kita diperdaya untuk sampai ke tempat jebakan itu”
“Astaga….” Ria menelan ludahnya, kenapa ia tidak berfikir sejauh itu? Tangannya langsung gemetar.

Melihat reaksi Ria, Sarah tertawa terbahak-bahak. “Hahahaha… Kau mudah saja diperdaya…Emangnya kita siapa? Rugi bensin kalau para Alien mau menculik kita”

Selama ini Sarah selalu mengagumi keberanian Ria. Sesuatu yang tidak dimilikinya. Ria itu selalu bonek, alias bondo nekad. Apapun jika ia mau, selalu dilakukan tanpa berfikir panjang. Tapi karena sering tanpa persiapan, ujung-ujungnya jadi seperti ini.

Ah… setidaknya petualangan ini membantunya untuk sedikit melupakan beban berat yang sedang menimpanya. 
“Lalu apa yang harus kita lakukan?” Tanya Ria mulai panik. Sarah tersenyum, disaat-saat genting seperti ini, Ria si pemberani dan bondo nekat ini memang tidak berkutik.

“Kita akan menggunakan Google Map disini.”

“Bagaimana mungkin? Di tengah-tengah hutan seperti ini, mana mungkin ada jaringan internet.”

“Jangan khawatir, aku pakai internet satelite broadband, kita masih bisa koneksi internet meskipun di daerah terpencil.”

“Syukurlah kalau begitu… Ayo kita cari lokasinya.”

Sarah membuka smartphone dan mencoba mangakses Google Map untuk mencari lokasi Kafe “Ngamuk”tapi hasil yang ditampilkan aplikasi ini sungguh mengejutkan. Berdasarkan aplikasi navigasi itu, mereka sudah berada tepat di lokasi kafe tersebut. 

Di tengah-tengah hutan dan dikelilingi jurang?? Kafe macam apa itu?

Di mana kafenya?

Tidak bisa disangkal lagi, bulu kuduk Sarah langsung merinding, Ria apalagi, wajahnya sudah menyerupai kapas, pucat…

Bersambung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *