IKAN BADUT DAN BURUNG CAMAR

Oleh Uning Musthofiyah

Pada suatu hari seekor ikan Badut bertemu dengan burung Camar di laut yang berwarna biru di bawah terpaan matahari yang bersinar cerah Tidak ada awan kelabu, tidak ada mendung dan ombak pun tidak sedang mengamuk dahsyat.

Saat itu burung Camar mendongak kebawah, ia berfikir kehidupan macam apa di bawah? Tampak membosankan dan monoton sekali. Hanya warna biru yang dominan, tidak ada angin, tidak ada hujan, bahkan sinar matahari enggan menyentuh permukaannya. Hmm… Malang sekali nasib para ikan yang harus tinggal di tempat kumuh seperti itu, batin si Burung Camar.

Ikan Badut yang saat itu tengah berenang di atas permukaan air laut memandang burung Camar yang mengepak-ngepakkan sayap dengan angkuhnya, seolah bangga dengan dua sayapnya yang kokoh itu.

“Hai ikan, kasihan sekali kamu. Kenapa hidup kamu hanya berada di bawah air laut saja. Lihatlah, aku bisa terbang tinggi dan menikmati sinar matahari yang begitu indah dan udara yang begitu segar ini. Cobalah seperti aku, agar hidupmu bahagia dan tidak membosankan seperti itu.”

Meski tidak nyaman dengan perilaku burung Camar yang begitu angkuh, tapi ikan Badut berusaha untuk tetap tenang. “Mengapa kau pikir hidupku tidak bahagia? Apakah kau pernah merasakan kehidupan seperti yang aku miliki?”

“Meski aku tak pernah merasakan kehidupan yang kau miliki, aku bisa melihat betapa membosankan kehidupan di bawah sana. Hanya warna biru saja di dalamnya. Sedangkan disini kehidupan berwarna-warni. Aku rasa kau perlu memiliki sayap sepertiku, agar kau tahu ada kehidupan yang jauh lebih baik.”

Ikan Badut mencoba tidak mendengar kenyinyiran dari burung Camar, ia tetap mencoba mensyukuri kehidupannya dan berenang ke dalam lautan. Dimana ia bisa memangang terumbu karang, rerumputan hijau di bawah laut dan distorsi cahaya matahari dalam lautan. “Apakah hidupku ini buruk? Padahal aku begitu menikmatinya.” Batin si Ikan Badut

Sayup-sayup ia mendengar cengkerama si camar dan rekan-rekannya sesama burung. “Ya ampun kasihan banget ya nasib para ikan-ikan di bawah laut itu, tidak pernah menikmati kehidupan menyenangkan nan indah seperti yang kita miliki.”

Ikan Badut mulai percaya bahwa kehidupan di bawah laut itu tidak seindah di atas permukaan air laut. Ia mulai bermimpi untuk hidup seperti burung camar. Hingga suatu ketika ia bertemu dengan si Camar lagi.

“Hai burung Camar, ajari aku untuk hidup seperti kau.”

“Hmm.. rupanya kau sudah mulai menyadari bahwa ada kehidupan yang jauh lebih baik daripada hidup di bawah laut ya?”
“Iya… aku mulai menyadari itu.”

Dengan rasa bangga si burung Camar meminjamkan dua helai bulu sayapnya dan dipasangkan di kedua sisi ikan Badut.

“Sekarang coba gunakan dua helai sayapku, lalu kepakkan, maka kau akan terbang tinggi ke langit sepertiku.”

Ia mencoba menuruti apa yang diperintahkan si burung Camar, benar saja ia langsung bisa terbang dan mengepak-ngepakkan sayap di atas langit. Beberapa detik di awal, ia merasa senang bisa menikmati kehidupan tanpa medium air. Udara langsung menyentuh tubuhnya, sinar matahari langsung memantulkan cahayanya di kulitnya yang mengkilat. Tapi, beberapa detik kemudian, ia merasakan kesakitan. Perlahan-lahan ia mulai kehausan, terengah-engah karena cahaya matahari begitu kuat menerpanya. Angin membuat kulitnya terasa kering; dan Astaga! Insangnya tidak bisa digunakan untuk bernafas di atas permukaan air laut.

Dari situ Ikan Badut menyadari bahwa kebahagiaan di atas permukaan air laut itu bukan untuk dirinya. Seharusnya ia sudah mensyukuri anugerah terindah yang diberikan Tuhan dengan bisa tinggal di bawah laut karena rupanya keindahan di bawah laut terasa lebih menenangkan dan membahagiakan bagi dirinya.

Segera ia lepas sayap pemberian si burung camar dan terjatuh di bawah laut.

Si burung camar dengan marah-marah mencoba mendekatinya. “Kau ini..!! Sudah dibantu tidak merasa bersyukur…! Untung aku mau membantumu merasakan kehidupan yang selama ini tidak kau rasakan. Sekarang malah dicampakkan begitu saja!”

“Sebelum kau marah-marah seperti itu, coba kau sekarang ganti menjelajah duniaku agar kau tahu duniaku tidak seburuk yang kau kira.”

“Buat apa aku harus turun level??” Teriak burung Camar marah

“Sombong sekali kau burung Camar! Pengetahuanmu terbatas tapi kau merasa tahu segalanya!” Teriak Ikan Badut. Tidak tahan dengan sikap burung Camar, Ikan Badut langsung berlalu meninggalkannya.

Entah kenapa angin di atas permukaan laut berubah menjadi badai yang kuat dan semua di atas permukaan air laut terombang-ambing. Si Burung Camar yang mengira sayap kokohnya akan melindunginya tidaklah mampu berbuat apa-apa. Ia terpukul oleh sebuah benda yang diterbangkan badai dan terjatuh ke dalam laut.

Saat ia berada di dalam laut, semula ia mengira hanya ada warna biru dominan dan tidak ada kehidupan indah dan menarik di dalamnya. Ternyata ia salah. Ternyata dunia laut itu tidak seburuk yang ia kira sebelumnya. Disini begitu nyaman dan menenangkan. Cahaya matahari tidak seterik yang ia rasakan selama ini dan warna-warni kehidupan begitu terlihat jelas di dalamnya. Tidak ada angin topan yang menyapu bersih apa yang ada di permukaan air laut. Begitu menenangkan.

Camar tidak bisa berkata apa-apa, karena ia begitu malu dengan kesombongannya selama ini. Hanya mahluk bodoh yang menganggap dirinya lebih baik dari orang lain, dan burung Camar mengakui bahwa ia hewan bodoh. Kesombongannya telah menutupi dirinya dari mengetahui fakta sebenarnya tentang kehidupan indah di laut.

“Seharusnya sebelum mengomentari kehidupan orang lain, aku harus lebih bijak dan mencoba memandang dari sudut pandang mereka.” ujar burung Camar dalam hati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *