Infant Sibling Studies – Autisme

Memang tidak bisa dipungkiri, Infant Sibling Studies cukup menyita waktu karena sangat intensive dengan rentetan eksperimen yang harus dilakukan untuk mendeteksi resiko autism sedini. Akan terapi ini mungkin bisa membawa pengetahuan baru tentang neurodevelopmental condition seperti ASD. 

Menurut American Psychiatric Association (2013), Neurodevelopmental conditions ditandai oleh beberapa keunikan dalam proses perkembangan anak yang meliputi bahasa, cognitive, gaya belajar dan juga kontrol motorik dan juga fungsi sosial. 

Sehingga menurut Elsabbagh & Johnson (2010), mempelajari tentang trajektori dan perkembangan anak terkait Neurodevelopmental conditions sangatlah penting agar kita bisa mengetahui jauh lebih awal akan tanda-tandanya sehingga akan mudah melakukan identifikasi dini dan perawatan yang tepat. 

Tingkat probabilitas seorang anak terlahir autis dalam suatu keluarga akan memiliki adik yang menderita sama sejumlah 10-20% (Ozonoff dkk, 2011). Ini membuat beberapa peniliti yang fokus pada dunia pendidikan autism untuk mengetahui apakah ini ada keterkaitan dengan social orienation dan interaction, 

Ada beberapa cara yang umum digunakan oleh para orang tua untuk mendeteksi gejala autisme dini karena melihat saudaranya sudah memiliki kondisi tersebut, meliputi experimental task, clinical measure dan orang tua diberi questionnaire untuk mengisi. Atau beberapa assessment seperti brain imaging ataupun blood sampling. 

Ada beberapa pendapat pula bahwa kekhawatiran orang tua bahwa adiknya pun mengalami autism seperti ada kemungkinan besar kakaknya bisa benar-benar terjadi (Hess & Landa, 2012). Mungkin ini disebabkan karena adanya stigmatization yang tertuju pada adik yang memiliki kakak dengan autism, karena mereka meskipun tidak terdapat gejala autisme karena perspektif yang melabel pada diri mereka bahwa mereka adalah anak yang berpotensi atau beresiko autism dapat benar2 mempengaruhi sikap orang-orang terhadap anak tersebut atau bahkan kesan orang tua terhadap perilaku anaknya. Selain itu akan ada rasa malu, kecemasan karena didiagnosa dengan hal tersebut (Yang dkk, 2019) 

Selain dampak terhadap anak, orang tua juga mendapatkan dampak yang mirip karena semakin distress dan merasa bersalah dan menyalahkan diri sendiri (1) 

Referensi

American Psychiatric Association (2013). Diagnostic and Statistical Manual of mental disorders (5th ed.). Washington, DC: American Psychiatric Association. 

Hess, C. R., & Landa, R. J. (2012). Predictive and concurrent validity of parent concern about young children at risk for autism.

Journal of Autism and Developmental Disorders, 42 (4), 575 – 584.https://doi.org/10.1007/s10803-011-1282-1

Ozonoff, S., Young, G. S., Steinfeld, M. B., Hill, M. M., Cook, I., Hutman, T., … Sigman, M. (2009). How early do parent concerns predict later autism diagnosis? Journal of Developmental & Behavioral Pediatrics, 30 (5), 367 –375.https://doi.org/10.1097/DBP.0b013e3181ba0fcf

Yang, L. H., Link, B. G., Ben-David, S., Gill, K. E., Girgis, R. R., Brucato, G., … Corcoran, C. M. (2015). Stigma related to labels and symptoms in individuals at clinical high-risk for psychosis. Schizophrenia Research, 168 (1–2), 9–15. https://doi.org/10.1016/j.schres.2015.08.004

https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S1750946719301424 (1)


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *