Kesedihan Panda di Musim Kemarau

by Uning Musthofiyah

“Panda… Panda… Nggak heran badan kamu besar… Makan selama 14 jam sehari.. Apa kamu nggak capek mengunyah terus?” Ujar Si Burung Hantu, sang Menteri Kesejahteraan Hewan.

“Lebih baik sibuk makan dari pada sibuk mengganggu hewan lain.”

Sambil berkata begitu, Panda tak bergeming, dia asyik terus memakan bamboo, ujung-ujung Bam boo begitu nikmat terasa di lidah. Sepertinya ruas-ruas tajam bambu yang bisa tajam melukai itu tak mengganggu Panda. Ia menganggapnya tak jauh beda dengan keripik yang gurih dan nikmat. 

“Mengapa sih kamu makan tidur makan tidur, bisa kah kamu berubah, seperti semut? Mereka gesit, giat bekerja. Tidak ada yang berani menjarah rumah mereka karena mereka stand by setiap saat. Sedangkan kamu??” Ujar Si Burung Hantu.

Panda tidak bergeming, “Hidup cuma sekali.. jangan dibuat repot!”

Setelah itu dia merapikan daun-daun berguguran kemudian berbaring di atasnya, memastikan tempat tidurnya aman dan nyaman

Tak seberapa lama, suara dengkuran Panda terdengar keras, rupanya ia sudah tidur lagi.. biasanya tidurnya 2-3 jam lalu bangun untuk makan, lalu tidur lagi 2-3 jam, lalu bangun untuk makan, lalu tidur lagi…

Begitulah hidupnya hanya begitu-begitu saja

Si burung hantu sangat kecewa dengan Panda yang tidak bisa memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Dia hanya menghabiskan waktu dengan tidur dan makan saja. Coba bayangkan bagaimana jika ada banjir bandang yang tiba-tiba menyerang dan menenggelamkan seluruh hunian binatang jika Panda asyik tidur dan tidak perduli dengan apa yang terjadi di luar sana. 

“Apa yang terjadi padamu jika ada hal buruk terjadi, kau harus bersiap-siap. Jangan terlalu santai!”

Lagi-lagi Panda hanya cuek. Sepertinya hidupnya itu begitu tenang dan damai. Apa yang dikatakan penduduk hutan lain tidaklah menjadi hal yang dirisaukannya. 

Ah.. Panda..Panda… hidupnya begitu santai..

Burung Hantu adalah hewan yang sangat peduli dengan hewan lain, bukan untuk kepo dan ikut campur dan mengintai permasalahan orang, tapi untuk membantu teman-temannya yang sekiranya butuh bantuan. Apalagi sebagai menteri kesejahteraan masyarakat hutan, dia bertanggung jawab untuk memastikan rekan-rekannya dapat hidup sejahtera, apalagi di masa-masa krisis. 

Dan sekarang dia sedang sedih dengan mengamati kebiasaan panda yang terlalu santai dan terlalu tak peduli dengan kehidupannya akhir-akhir ini…

Berdasarkan kabar-kabar akhir ini, Hutan akan segera kering dan musim kemarau akan datang. Jika Panda tidak bersiap-siap seperti semut yang sangat rajin bekerja, apa yang akan terjadi dengan Panda? Mati kelaparan karena bambu yang ia makan tidak bertumbuh dan menjadi kering?

Raksasa ini harus diberitahu agar lebih pandai dalam mempersiapkan hal terburuk sehingga tidak merasa kesulitan saat bencana itu datang. Dia harus belajar dari semut!

Tapi sayang semut ketika dimintai bantuan mengajari panda, mereka langsung terbirit-birit. Dikiranya Panda adalah hewan liar yang suka membunuh. 

“Jangan takut, Semut! Panda bukan hewan pembunuh. Dia itu lembut dan pemalu!”

“Ah tidak! Aku pernah mendengar Panda membuat Singa lari ketakutan gara-gara mengganggu anaknya.”
“Tentu saja Panda akan marah jika anaknya diganggu. Tapi jika kau tidak mengganggu apapun yang ia miliki, dia tak akan liar.” ujar si burung hantu.

Padahal seandainya mereka tahu, dibalik badannya yang besar dan raksasa itu, Panda adalah hewan pemalu yang tidak akan tega membunuh hewan. Bahkan terhadap semut, begitu melihatnya Panda langsung menutup wajahnya karena malu…
Tapi semut tidak bisa mengontrol rasa takutnya dia ketakutan dan kabur. Alhasil upaya burung hantu agar panda belajar dari semut tidak berhasil. Gagal total!

Yang ditakutkan terjadi, Musim kemarau datang dan bamboo mati-tidak bertumbuh. Panda tidak menemukan makanan sama sekali. 

Tubuhnya yang besar dan raksasa itu tidak bergeming lagi semakin kurus dan semakin tidak punya lemak dalam tubuh. 

Tubuh yang tiap berjalan menimbulkan getaran di atas tanah karena begitu besar dan berisi tubuhnya. Dan kini dia kurus kering dan hampir mati. 

Si Burung Hantu, si menteri kesejahteraan masyarakt hewan terbang di atas Panda yang matanya semakin hitam dan pekat karena tidak bisa tidur dan tidak bisa makan. 

Tampak keputusasaan di matanya. 

“Aku akan mati, Burung Hantu!” ujar Panda lemas

“jangan begitu, kau tidak boleh menyerah.”

“Jangan menghiburku dan memberi angan-angan palsu, tak ada bambu, tak ada air. Aku sebentar lagi akan mati.”

“Jangan mudah putus asa, Panda.”

“Lalu, kau ingin aku berkhayal? Lihat di sekitarmu. Tak ada apapun. Sudah jelas sebentar lagi aku akan mati.”

“Jika kau memilih menyerah, aku tak akan memaksamu. Sebagai menteri kesejahteraan hewan, aku hanya bisa menolong hewan yang bisa menolong dirinya sendiri, bukan hewan yang kerjanya hanya bisa pasrah dan berharap takdir menjadi indah tanpa berjuang.”

Sambil berkata seperti itu, burung hantu bersiap mengepakkan sayapnya untuk meninggalkan Panda yang terbaring lemas karena lapar. 

Segera Panda berteriak, “Tunggu… Aku mau berjuang!”

Burung Hantu berhenti mengepakkan sayang. Ia segera terbang mendekati si Panda. “Kalau begitu, ikuti petunjukku. Naiklah ke atas pohon Meranti kuning yang tingginya 100 meter itu. Lalu di atas ketinggian itu, kau carilah sebuah titik poin di atas tanah yang berkilau jika terpantul sinar matahari, itu berarti ada air yang bisa kau minum. Setelah kau menemukan air, disitu kau akan menemukan makanan. Karena Air adalah sumber kehidupan, dimana ada air, disitu ada makanan.”

“Tapi… tapi aku malas naik..” Protes panda. 

“Panda, kau adalah kesatria pemanjat sejati. Kau dibekali Tuhan dengan kemampuan memanjat dengan cepat. Jika kau malas, itu adalah kesalahanmu sendiri. Semua orang sukses adalah orang malas yang bisa mengalahkan kemalasannya sendiri. Jika kemalasan mengalahkan, bersiap-siaplah menjadi pecundang. Sampai Jumpa Panda. Aku harus pergi membantu hewan-hewan lain yang kesusahan.”

Setelah itu, Burung Hantu terbang mengepakkan sayapnya ke atas langit, meninggalkan Panda yang termenung…

Panda akhirnya berhasil menemukan pohon Meranti kuning yang tingginya 100 meter itu. Dia langsung memanjat ke atas. 

“Aku tidak kuat lagi…” Ucap Panda lemas. Tapi ia tidak boleh menyerah. Ia ingin jadi orang sukses yang bisa mengalahkan kemalasan. Ia terus berjuang naik hingga sampai ke atas. 

“Ahhh… itu dia… itu tititk berkilau..! Itu pasti air kehidupan.”
Ia segera bergegas turun dan berlari menuju air kehidupan itu. Tepat sekali perkiraannya. Air itu adalah sungai segar yang mengalir begitu deras. Ia langsung meminum air tersebut dan tiba-tiba tubuhnya menjadi segar. Seketika pandagannya tidak lagi kabur. Dia bisa melihat ada tanaman bambu yang nikmat. Ia segera berlari ke sana dan makan dengan lahap. Alhamdulillah..
Akhirnya aku bisa kembali segar lagi. Terimakasih Tuhan!

Pesan moral: Jika kita malas, kita akan mendapatkan kerugian. Jika kita bisa melawan rasa malas, kita akan mendapatkan keberhasilan. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *